NasionalismeNews.com - Kapal tanker Pertamina tertahan di kawasan Teluk Arab hingga Rabu, 26 Maret 2026, dan belum dapat melintasi jalur strategis Selat Hormuz.
Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Teluk Arab hingga 26 Maret 2026
Kapal tanker Pertamina tertahan di kawasan Teluk Arab hingga Rabu, 26 Maret 2026, dan belum dapat melintasi jalur strategis Selat Hormuz. Informasi ini mengacu pada data pelacakan kapal global dari MarineTraffic yang menunjukkan posisi dua kapal milik Indonesia masih berada di wilayah tersebut.
Dua kapal yang dimaksud adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang merupakan bagian dari armada pengangkut energi milik Pertamina melalui anak usahanya Pertamina International Shipping.
Posisi Kapal di Dekat Dammam Arab Saudi
Berdasarkan data terbaru, kapal Pertamina Pride terpantau berada di perairan utara Dammam, Arab Saudi. Lokasi tersebut masih termasuk wilayah Teluk Arab yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Sementara itu, kapal Gamsunoro juga dilaporkan berada di area yang sama dan belum memperoleh izin atau kondisi aman untuk melanjutkan pelayaran menuju Selat Hormuz.
Selat Hormuz Jadi Titik Krusial Distribusi Energi Dunia
Kapal tanker Pertamina tertahan di kawasan ini menjadi perhatian karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Sekitar 20% distribusi minyak global melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir disebut-sebut sebagai faktor yang memengaruhi lalu lintas kapal tanker, termasuk milik Indonesia.
Dampak Potensial terhadap Distribusi Energi
Tertahannya kapal tanker ini berpotensi berdampak pada rantai pasok energi, terutama jika berlangsung dalam waktu lama. Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Pertamina terkait gangguan distribusi bahan bakar ke dalam negeri.
Pengamat energi menilai situasi ini perlu diantisipasi dengan strategi diversifikasi jalur distribusi serta penguatan cadangan energi nasional.
Referensi dan Sumber Eksternal
Negara mana saja yang kapalnya diperbolehkan melintasi Selat Hormuz?
Berbicara kepada stasiun televisi pemerintah Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup.
“Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat,” ujar Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters.
“Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman,” tambahnya.
“Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir,” lanjutnya.
Data pelayaran Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.
Padahal sebelum perang, sekitar 138 kapal melintasi selat itu setiap hari, berdasarkan data Joint Maritime Information Centre. Kapal-kapal itu diandalkan untuk membawa seperlima pasokan minyak global.
NasionalismeNews.com – Analisis BBC menunjukkan sekitar sepertiga dari pelayaran terbaru di Selat Hormuz dilakukan oleh kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Di antaranya terdapat 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran serta sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran.
Sembilan kapal lainnya dimiliki perusahaan yang beralamat di China. Adapun enam kapal tercatat menjadikan India sebagai tujuan akhir.
Sejumlah kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz tampak memilih rute yang lebih panjang dari biasanya.
Data pelacakan sebuah kapal tanker berbendera Pakistan menunjukkan kapal itu berlayar lebih dekat ke pantai Iran pada 15 Maret—alih-alih menempuh jalur umum yang berada di bagian tengah selat.
‘Tidak ada akses bagi musuh’
Araghchi juga menyatakan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas.
Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung tidak akan diberi izin transit.
“Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” ujarnya pada Rabu (25/03).
Perkataan Araghchi sejalan dengan pernyataan yang diunggah oleh perwakilan Iran untuk PBB.
Dalam unggahan di X, Teheran menyatakan bahwa “kapal-kapal yang tidak bermusuhan” akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, asalkan mereka berkoordinasi dengan “otoritas Iran yang berwenang.”
Kapal-kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak awal bulan ini mencakup kapal dari China, India, dan Pakistan.
Alih-alih menggunakan dua koridor transit sempit yang lebih dekat ke Oman, kapal-kapal kini mengalihkan rute lebih ke utara, melewati perairan teritorial Iran di utara Pulau Larak, sehingga aparat Iran bisa memantau dan mengendalikan lalu lintas maritim.
Untuk memastikan transparansi informasi, data posisi kapal dapat diakses melalui:
- https://www.marinetraffic.com (data pelacakan kapal global)
Red. 27/03/2026.
