Atasi 170 Ribu Anak Putus Sekolah, Disdik Sulsel Siapkan Program Pendidikan Jarak Jauh
MAKASSAR – Fenomena Anak Tidak Sekolah di Sulsel kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data terbaru dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, tercatat sebanyak 170.433 anak masuk dalam kategori tidak bersekolah, baik karena putus sekolah di tengah jalan maupun belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali.
Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Nadjamuddin, menjelaskan bahwa angka Anak Tidak Sekolah di Sulsel didominasi oleh remaja usia produktif (15-18 tahun). Berbagai faktor kompleks menjadi pemicu utamanya, mulai dari keterbatasan ekonomi keluarga yang memaksa anak bekerja, hingga hambatan geografis bagi mereka yang tinggal di wilayah pelosok.
“Kondisi Anak Tidak Sekolah di Sulsel ini memerlukan penanganan khusus. Banyak dari mereka sebenarnya ingin belajar, namun terkendala akses dan biaya transportasi menuju sekolah formal,” ujar Iqbal.
Sebagai langkah konkret, pemerintah menyiapkan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai solusi inklusif. Melalui PJJ, para siswa yang masuk kategori Anak Tidak Sekolah di Sulsel dapat mengikuti pembelajaran secara fleksibel menggunakan perangkat digital tanpa harus hadir di kelas setiap hari. Program ini memungkinkan siswa tetap bekerja atau membantu orang tua sambil mengejar ketertinggalan materi pelajaran.
Rencananya, uji coba program PJJ untuk menangani Anak Tidak Sekolah di Sulsel akan difokuskan pada tiga wilayah dengan sebaran data tertinggi, yakni Makassar, Gowa, dan Bone. Pemerintah berharap integrasi antara sekolah formal dan sistem jarak jauh ini dapat menekan angka putus sekolah secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan adanya layanan pendidikan alternatif ini, setiap Anak Tidak Sekolah di Sulsel diharapkan kembali mendapatkan hak pendidikan mereka dan memperoleh ijazah setara sekolah reguler untuk masa depan yang lebih baik.
